Investigasi Hukum

Trakindo putar haluan ke bisnis alat konstruksi

JAKARTA. PT Trakindo Utama mengubah sasaran utama penjualan alat berat ke sektor konstruksi di semester II-2015 ini. Padahal di awal tahun lalu, pemasok alat berat merek Caterpillar tersebut menilai, alat berat sektor pertambangan paling menjanjikan cuan.

Aksi putar haluan sasaran penjualan itu berangkat dari capaian penjualan per Juli 2015. Manajemen Trakindo Utama bilang, perusahaan sektor konstruksi menjadi mayoritas pelanggan hingga 49% terhadap total total pelanggan. “Sampai akhir tahun semua industri alat berat dikuasai sektor kontruksi,” proyeksi Ivan Tulong, Chief Marketing Officer PT Trakindo Utama, Rabu (26/8).

Masih dari catatan manajemen Trakindo Utama, pelanggan sektor konstruksi meningkat 10%-15% ketimbang periode yang sama tahun lalu. Dua produk andalan mereka adalah eskavator CAT320D2 dan bulldozer D6R.

Sementara pelanggan sektor pertambangan hanya 11% dari total pelanggan. Pelanggan lain seperti, sektor perusahaan powergen engineering 16%, agrikultur 10%, hutan 5% dan lautan 5%. Sisanya adalah pelanggan dari perusahaan minyak dan gas (migas).

Mayoritas konsumen Trakindo Utama berada di Jawa, yakni hingga 34,5%. Selebihnya konsumen di Kalimantan 26%, Sumatera 23,5% dan Indonesia bagian Timur 16%.

Di luar strategi mengubah pasar utama, Trakindo Utama tak imun dari penurunan penjualan. “Kalau secara keseluruhan angka, sejalan dengan penurunan industri, yakni terjadi penurunan penjualan,” aku Ivan.

Sayangnya Trakindo Utama belum mau membeberkan besar penurunan penjualan sepanjang semester I-2015. Perusahaan itu hanya bilang, meski penjualan turun, pangsa pasar mereka naik.

Trakindo Utama mengklaim, pangsa pasar mereka naik 5%-6% menjadi 25%-30% pada semester I-2015. Pada paruh pertama tahun ini, perusahaan tersebut menyebutkan penjualan alat berat nasional adalah 3.000 unit alat berat. Jadi kalau dihitung, volume penjualan Trakindo Utama adalah 750 unit alat berat – 900 unit alat berat.

Untuk bisa mendekap pangsa pasar versi Trakindo Utama itu, mereka berstrategi dengan menawarkan produk sesuai dengan kebutuhan konsumen. “Kami enggak mampu meningkatkan daya beli masyarakat, tapi kami mencoba melakukan riset dan menawarkan solusi alat berat yang bisa menurunkan biaya operasi mereka,” papar Ivan.

Berbekal strategi itu, Trakindo Utama memastikan tak akan mengerek harga jual di tengah pelemahan rupiah. Meskipun, produk Caterpillar  adalah produk impor dari Amerika Serikat.

Trakindo Utama juga mempertahankan target penjualan hingga akhir tahun. Tanpa menyebutkan target yang dimaksud, perusahaan tersebut yakin kinerja penjualan semester II-2015 bakal lebih baik ketimbang semester I.

Sebagai informasi, Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi) memperkirakan penjualan alat berat di Indonesia tahun ini sekitar 8.000 unit. Proyeksi itu turun 42,86% dari realisasi penjualan tahun 2014 yakni 14.000 unit.

Editor: Havid Vebri (kontan.co.id)