Investigasi Hukum

SALAH INVESTASI, JIWASRAYA GAGAL BAYAR POLIS

PT Asuransi Jiwasraya (berdiri sejak 1859), menghadapi masalah gagal bayar polis yang sudah jatu tempo untuk 711 polis produk bancassurance senilai Rp 802 miliar. Kesalahan investasi diduga menjadi penyebab sulitnya likuiditas perusahaan. Jiwasraya melaku investasi REPO (repurchase Agreement) Saham tahun 2007 sampai 2012. Mulai dipasarkan 2013 untuk investasi dan melaui program JS Proteksi Plan khusus beberapa bank anggota asuransi dengan bunga 6,5% imbal hasil per tahun. Pada bulan Oktober 2018 JS Proteksi Plan mengalami kesulitan membayar  polis jatuh tempo.

Jiwa Araya bekerjasama dengan tujuh bank untuk memasarkan produk JS Proteksi Plan bancassurance Jiwasraya bernama JS Proteksi Plan. Ketujuh bank tersebut adalah Bank Tabungan Negara (BTN), Standard Chartered, Bank KEB Hana Indonesia, Bank Victoria, Bank ANZ, Bank QNB Indonesia, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Hal yang juga harus dipertanayakan adalah bagaimana bentuk tanggung jawab hukum bank-bank tersebut terhadap pencairan polis nasabah?

Pada hal laporan keuangan Jiwasraya tahun 2017 menyebutkan memperoleh laba sebesar Rp. 2,4 triliun rupiah. Namun ternyata  terdapat fraud dalam laporan tersebut. Ketika dilakukan audit investigative menemukan laba perusahaan hanya  sebesar kurang lebih Rp.360 miliard.

Ada ketidaksesuaian aset dan kewajiban dalam laporan keuangan tahun lalu. Dalam laporan keuangan tersebut tercatat perolehan laba bersih Jiwasraya mencapai Rp 2,4 triliun. naik 37,64% dibandingkan tahun sebelumnya. Premi netto mencapai Rp 21,8 triliun atau naik 21,52%, sedangkan hasil investasi naik 21,09% menjadi Rp 3,86 triliun. Namun, Asmawi merasa ada kejanggalan dalam laporan keuangan tersebut. (INVELEX)