Investigasi Hukum

Misteri Operasi Karpet Ajaib Israel

Selama lebih dari setengah abad, kisah mereka jadi aib bagi Tel Aviv, jadi “duri” di kursi para penguasa Israel. Inilah kisah anak-anak Yahudi yang hilang, anak-anak Israel yang kemungkinan besar dipisahkan secara paksa dari orang tuanya.

Pada 1951, Ezer dan Sara Zarum bersama dua anak mereka yang masih kecil, Eli dan Mati, meninggalkan Kota Sana’a, Yaman, dan berangkat ke tanah yang mereka yakini “dijanjikan” untuk kaum mereka: Israel. Keluarga Yemenite itu—sebutan bagi keturunan Yahudi asal Yaman—berangkat dengan keyakinan bahwa di negara baru Israel, mereka akan menemukan semua hal yang mereka impikan.

Sara tiba di Israel dalam kondisi tengah mengandung anak ketiga. Di rumah sakit dalam kamp penampungan Atlit di Israel, anak bungsu Ezer dan Sara lahir. Bayi perempuan itu mereka beri nama Ziona. Malang bagi keluarga Ezer, hanya beberapa saat setelah anak mereka lahir, seorang perawat menghampiri Ezer dan Sara, mengabarkan bahwa Ziona telah meninggal dan sudah dikuburkan.

Mereka ‘dicuri’, diambil tanpa sepengetahuan orang tuanya, dan diserahkan untuk diadopsi oleh keluarga-keluarga Yahudi Ashkenazi.”

Yang agak janggal, Ezer dan Sara tak pernah melihat mayat Ziona dan tak menerima surat keterangan kematian bayi mereka. Tapi mereka hanya diam, tak banyak tanya atau menelusuri kematian bayinya, sampai belasan tahun kemudian. Satu data dari Biro Pusat Statistik yang diperoleh Ezer dan Sara dari seorang kerabat yang bekerja di lembaga itu membuat mereka curiga bahwa bayi mereka sebenarnya masih hidup.

Anak mereka kemungkinan besar diadopsi oleh keluarga kaya di Haifa yang dekat dengan lingkaran kekuasaan Israel. “Kakekku tak pernah menyangka ada ‘pencuri’ di Israel…. Dia juga tak mau menyelidiki lantaran takut kecewa terhadap Israel, tanah tempat ‘susu dan madu’ dijanjikan akan mengucur untuk mereka,” Neriya Zur, cucu Ezer dan Sara, menuturkan kisah kakek dan neneknya, kepada majalah 972.

Proklamasi berdirinya negara Israel dengan menduduki sebagian wilayah Palestina oleh David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948 di Museum Tel Aviv membuat berang Mesir dan negara-negara Arab. Perang antara Israel dan negara-negara tetangganya tak terhindarkan. Situasi itu membuat posisi ratusan ribu komunitas Yahudi yang tersebar dari Pakistan, Iran, Yaman, hingga Mesir, Tunisia, Djibouti, dan Eritrea terpojok. Pemerintah Israel di Tel Aviv disokong Inggris dan Amerika Serikat menggelar operasi besar-besaran untuk mengangkut ratusan ribu keturunan Yahudi Sephardi dan Mizrahi itu ke Israel.

Yahudi dari pelbagai negara di Timur Tengah di lokasi penampungan di Israel
Foto: Wikimedia

Di Yaman saja, misalnya, ada hampir 50 ribu Yemenite. Untuk mengangkut mereka, Israel menggelar Operasi Karpet Ajaib alias Operasi di Atas Sayap Elang sejak Juni 1949. Sebelum pesawat-pesawat Israel, Inggris, dan Amerika datang menjemput, puluhan ribu Yemenite diminta berkumpul di kamp penampungan Geula di luar Kota Aden. Setiap hari, rata-rata 500 orang Yemenite diterbangkan ke Israel. Hingga September 1950, saat Operasi Karpet Terbang berakhir, hanya tersisa ratusan orang keturunan Yahudi di Yaman.

Puluhan ribu Yemenite itu, bayi, anak-anak beserta ibu dan bapaknya, juga orang-orang yang telah lanjut usia, datang di Israel dengan meninggalkan sebagian besar harta-benda mereka di Yaman. Israel yang masih sangat muda dan tak punya apa-apa sebenarnya tidak siap menampung ratusan ribu orang yang terus berdatangan dari pelbagai negara.

Orang-orang itu terpaksa hidup di ma’abarot atau kamp-kamp penampungan dalam kondisi menyedihkan. “Anak-anak itu berbaring di kasur lebih menyerupai tulang belulang ketimbang manusia,” David Ben-Gurion menulis soal kunjungannya ke Rumah Sakit Tel Hashomer dalam catatan hariannya. Di ma’abarot inilah kisah-kisah itu bermula.

Setiap kali ingat kejadian pada 67 tahun lalu, Yona Josef, kini 84 tahun, selalu berurai air mata. Saat itu Yona bersama ayahnya beserta ibu tiri dan dua adiknya telah meninggalkan rumah di Sana’a, Yaman, dan baru tiba di Israel. Seperti biasa, begitu tiba di ma’abarot, anak-anak itu diminta menjalani tes kesehatan. Yona mengantar adik tirinya, Saadia, yang baru berumur 4 tahun ke klinik.

Yahudi Yemenite di lokasi penampungan di Israel pada 1949.
Foto: Wikimedia

“Di klinik, aku diminta meninggalkan Saadia. Mereka bilang akan mengantarkannya pulang jika pemeriksaan sudah selesai,” Yona menuturkan kepada Washington Postbeberapa hari lalu. Yona, yang masih remaja, tentu tak menyimpan pikiran buruk. “Apa yang aku tahu saat itu? Aku sendiri masih sangat muda.” Yona tak pernah melihat adiknya kembali. Pihak klinik mengatakan adiknya meninggal, tapi Yona dan keluarganya tak diperkenankan melihat mayatnya.

Ada ratusan, bahkan ribuan, cerita anak-anak Yemenite—tak sedikit pula keturunan Yahudi Mizrahi dari negara-negara Afrika—yang dikabarkan mati selama periode 1948-1954 seperti yang dituturkan keluarga Yona dan Neriya Zur. Konon, menurut sejumlah sumber, anak-anak ini sebenarnya belum mati. Mereka “dicuri”, diambil tanpa sepengetahuan orang tuanya, dan diserahkan untuk diadopsi oleh keluarga-keluarga Yahudi Ashkenazi. Rata-rata keluarga Yahudi Ashkenazi tersebut kehilangan anak akibatholocaust.

Avi Josef, pendiri organisasi Achim Vekayamim, menaksir, ada lebih dari 5.000 anak, sebagian besar Yemenite, tak jelas nasibnya setelah Operasi Karpet Ajaib digelar. Avi adalah putra Yona Josef. Menurut Avi, orang tua anak-anak itu datang ke Israel nyaris tak punya apa-apa. Mereka tak punya duit, juga tak punya keberanian untuk mempertanyakan kasus hilangnya anak mereka.

“Ini ketidakadilan ganda bagi mereka,” kata Avi, dikutip Fox News. Nurit Koren, anggota parlemen Israel, Knesset, dari Partai Likud, dan keturunan Yemenite, mengklaim punya lebih dari 1.000 berkas dokumen kasus hilangnya anak-anak Yahudi dari Yaman. “Pemerintah selalu bilang bahwa tak ada anak yang hilang saat itu…. Tapi orang-orang terus berdatangan dan mengatakan ada keluarga mereka yang hilang saat itu,” kata Nurit kepada Jerusalem Post beberapa pekan lalu.

* * *

Yahudi Yemenite di Aden, Yaman
Foto: Wikimedia

Sejak 1960-an, sudah empat kali pemerintah Israel membentuk komite khusus untuk menyelidiki kasus “hilang”-nya anak-anak Yemenite setelah Operasi Karpet Ajaib. Pada 1967, pemerintah Israel membentuk komite investigasi kasus itu, yang dipimpin oleh Joseph Bahlul dan Reuben Minkowski.

Butuh waktu bertahun-tahun bagi komite itu untuk menyelidiki 342 kasus hilangnya anak Yemenite. Pada 1986, Komite Bahlul-Minkowski menyampaikan kesimpulan mereka. Menurut Joseph Bahlul, dari 342 kasus, 316 anak dipastikan benar-benar meninggal dan dua lainnya diadopsi. Sisanya, 24 kasus, Komite Bahlul tak bisa memberikan kepastian.

Namun hasil investigasi Komite Bahlul-Minkowski tak bisa “membungkam” isu hilangnya anak-anak Yemenite. Hanya dua tahun setelah Komite Bahlul menyampaikan kesimpulannya, pemerintah Israel kembali membentuk komite pencari fakta yang dipimpin oleh hakim Moshe Shalgi. Komunitas Yemenite tetap tak puas terhadap hasil kerja mereka.

Pada 1995, Perdana Menteri Yitzak Rabin menunjuk hakim Yaacov Kedmi untuk memimpin penyelidikan kasus hilangnya anak-anak Yemenite. Menurut hakim Kedmi, tak ada upaya sistematis untuk “menculik” anak-anak Yemenite. Kesimpulan itu tak membikin gamblang nasib anak-anak Yemenite yang “hilang”. Apalagi ribuan dokumen hasil investigasi mereka disimpan rapat-rapat dan baru bisa dibuka untuk umum 70 tahun kemudian.

Kesaksian sejumlah perawat dan tenaga medis yang bertugas merawat anak-anak Yemenite kala itu malah makin menambah kecurigaan, bahwa ada “apa-apa” dengan “hilang dan mati”-nya anak-anak itu.

Rosa Oushinnsky pernah bekerja di salah satu kamp penampungan Yemenite. Dalam artikelnya, Meira Weiss, profesor di Universitas Hebrew, Yerusalem, mengutip kesaksian Rosa Oushinnsky kepada Komite Shalgi, ”Kami membawa bayi-bayi Yemenite yang sehat dalam ambulans dari kamp penampungan ke rumah sakit di kota. Tapi kami tak membawa mereka pulang kembali…. Saat orang tua mereka bertanya di mana anaknya, petugas akan mengatakan bahwa anaknya telah meninggal.”

Yahudi Yemenite
Foto: JewishLens

Saksi lain, Yitzak Boosi, pernah bekerja sebagai sopir ambulans di kamp penampungan Yemenite. Menurut Boosi, dia sering mengantarkan bayi-bayi tanpa papan nama di tengah malam buta, dari kamp penampungan ke rumah sakit. Tanpa papan nama, entah bagaimana perlakuan terhadap bayi-bayi itu.

Yigal Yosef, anggota Komite Shalgi dan Wali Kota Rosh Ha’ayin, mengkritik cara kerja anggota Komite. Yigal merupakan keturunan Yemenite dan mayoritas penduduk Rosh Ha’ayin adalah keturunan Yemenite. “Penguasa menganggap ibu-ibu Yemenite sebagai mesin bayi. Di mata mereka, kehilangan satu bayi tak jadi persoalan bagi ibu Yemenite. Jadi apa masalahnya mengambil satu anak dari mereka?” kata Yigal.

Sekian lama terkubur, kini isu anak-anak Yahudi yang hilang itu kembali jadi berita “panas”. Pada Juni lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan salah satu menterinya, Tzachi Hanegbi, untuk menyelidiki kembali kasus itu. “Isu soal anak-anak Yemenite yang hilang seperti luka yang bakal terus berdarah bagi keluarganya,” kata Perdana Menteri Netanyahu, dikutip Washington Post.

Setelah memeriksa sejumlah dokumen, kepada stasiun televisi Channel 2, Menteri Hanegbi mengambil kesimpulan sementara bahwa ada anak-anak Yahudi dari Yaman yang diambil dari orang tuanya. “Anak-anak itu diambil dan diberikan kepada orang lain. Aku tak tahu mereka dibawa ke mana…. Mungkin kita tak akan pernah tahu,” kata Hanegbi.

Menurut dia, ada lebih dari satu juta halaman dokumen hasil investigasi tiga komite sebelumnya. Bakal perlu waktu sangat lama untuk memeriksa semua dokumen itu. Sampai sekarang dia belum menemukan bukti ada keterlibatan penguasa di Tel Aviv kala itu dalam kasus tersebut. “Aku tidak tahu apakah saat itu ada perintah dari atas atau tidak,” kata Hanegbi kepada Haaretz.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban