Investigasi Hukum

Prinsip investasi itu penting

Kasus penipuan investasi masih marak terjadi. Tak hanya di lingkup pasar modal, tetapi juga dalam investasi di sektor lain, seperti properti. Karena banyak investor yang belum memahami prinsip kehati-hatian dalam berinvestasi.

Banyak investor yang terjebak di suatu produk karena tidak mengenal produk itu sendiri. Ada juga yang terjebak karena nama besar suatu perusahaan. Padahal, baik perusahaan besar atau kecil memiliki risiko. Nah, saat terjadi macet pembayaran, perusahaan enggan bertanggung jawab.

Seharusnya, sebelum berinvestasi, mintalah pendapat kedua dari berbagai pakar. Atau lakukan verifikasi produk ke otoritas terkait. Terkadang, investor tidak melakukan itu.

Dalam berinvestasi, terlalu percaya terhadap suatu produk juga salah. Kesalahan lainnya yang kerap dilakukan investor adalah terburu-buru mengambil kesempatan. Hanya karena return tinggi, banyak investor yang tidak berpikir panjang, apakah return itu realistis bisa dicapai.

Seharusnya,  berinvestasi itu alon-alon asal kelakon. Pelan-pelan dulu dicermati seksama produknya. Ketika berpisah dengan uang kita, kita harus memiliki keyakinan yang cukup, uang itu akan kembali.

Kalau masih ada perasaan tidak yakin, lebih baik jangan berinvestasi. Jangan takut kehilangan kesempatan dari iming-iming return tinggi. Lebih baik kehilangan kesempatan, dibandingkan menuai kerugian besar di kemudian hari.

Selain itu, jangan grusa-grusu dalam berinvestasi dan hanya memikirkan return semata. Sejatinya, sebelum berinvestasi, yang dipikirkan pertama kali adalah risiko. Investor harus cek berkali-kali dan memiliki kelengkapan dokumen.

Di lingkup pasar modal, OJK sudah cukup memberi edukasi ke konsumen. Namun, literasi keuangan masyarakat memang masih rendah. Pendidikan investasi harus dipupuk sendiri. Kini, media yang menyediakan informasi terkait investasi cukup mudah diakses. Seharusnya investor tidak terjebak investasi bodong lagi. (kontan.co.id)