Investigasi Hukum

Dana pinjaman ditengarai lari ke luar negeri

JAKARTA. Pertumbuhan uang beredar terus merosot. Sepanjang Desember 2015, jumlah uang beredar (M2) tumbuh sebesar 8,9% secara year-on-year (yoy) menjadi Rp 4.546 triliun.

Jika dibandingkan dengan pertumbuhan di bulan sebelumnya, terjadi penurunan, yakni dari 9,2% yoy. Begitu pula pertumbuhan uang beredar di November 2015 jika dibandingkan Oktober 2015 mengalami penyusutan.

Mochammad Doddy Ariefianto, Kepala Ekonom Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengatakan, lesunya ekonomi menyebabkan masyarakat harus menggunakan tabungannya untuk memenuhi kebutuhan. Terlebih, harga barang-barang pada akhir tahun lalu cenderung naik.

Namun, menurut dia, itu hanya merupakan salah satu penyebab tergelincirnya pertumbuhan uang beredar di Desember 2015. “Pertumbuhan kredit dan DPK (simpanan masyarakat) harusnya jalan beriringan, tetapi, ini tidak. Ditengarai ada kebocoran,” ujarnya, Senin (1/2).

Masih dari data BI, pertumbuhan kredit per akhir tahun lalu tercatat naik dari 9,5% menjadi 10,1%.

Logikanya, ketika suatu pihak menarik pinjaman satu bank, maka ketika ia melakukan transaksi, lawan transaksinya akan menyimpannya di bank lain. Maka hal itu akan menjadi DPK bagi bank lain tersebut.

Tetapi, pertumbuhan DPK dan kredit bertolak belakang. Doddy menengarai, dana tersebut tidak diserap oleh sistem keuangan di Indonesia, melainkan lari ke luar negeri. Ini bisa terjadi ketika transaksi dilakukan oleh suatu pihak di dalam negeri dengan pihak di luar negeri, baik terafiliasi atau tidak. Sementara, transaksi itu menggunakan pinjaman yang ditarik dari bank di dalam negeri.

Penyebab lain, jika lawan transaksinya adalah pemerintah. Misalnya, membayar pajak. Bisa juga, tabungan ditarik kemudian diinvestasikan ke surat utang negara (SUN). Dana tersebut akan masuk ke rekening persepsi pemerintah di BI. Ini tidak dihitung sebagai uang beredar. “Saya perkirakan, penyebabnya (pertumbuhan uang beredar turun) akibat makan tabungan dan dana lari ke luar negeri,” imbuh Doddy.

Namun, sayang, ia mengaku tidak memiliki data yang mendetil terkait hal itu. David Sumual, Ekonom Bank Central Asia (BCA) menambahkan, tren menggelindingnya pertumbuhan uang beredar telah terjadi sejak tiga tahun belakangan. Hal ini terjadi seiring dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi. Ia memperkirakan, tahun ini kondisi akan membaik sejalan dengan percepatan belanja pemerintah. (www.kontan.co.id