Investigasi Hukum

BISNIS PROPERTI TERJUNGKAL

JAKARTA. Bisnis properti yang tengah melambat berimbas ke broker properti. Pebisnis jasa perdagangan properti ini mengaku mengalami penurunan penjualan. Saat ini, masyarakat lebih fokus memenuhi kebutuhan sandang dan pangan ketimbang hunian.

“Terjadi penurunan bisnis sebesar 10% di sektor usaha industri broker properti,” kata Darmadi Darmawangsa, Ketua Umum Real Estate Broker Indonesia (Arebi), ke KONTAN, Rabu (25/8).

Saat ini, penurunan bisnis broker properti terjadi di sektor hunian, seperti rumah dan apartemen. Khususnya properti kelas menengah dan atas seharga di atas Rp 1 miliar. Daniel Handojo, Associate Executive Director PT Sagotra Usaha alias Century 21 Indonesia, langsung memperkuat pernyataan Damadi.

Saat ini, transaksi penjualan di Century 21 turun 5%-10% lantaran terjadi penurunan transaksi properti hunian. Maklum, porsi transaksi bisnis rumah bisa 50% dari total transaksi properti di Century 21.

Sependapat, Erwin Karya, Associate Director PT Pasifik Properti Citra alias Ray White Indonesia, bertutur, penurunan bisnis broker terjadi karena saat ini konsumen sedang wait and see melihat kondisi ekonomi lokal dan global. Nah, kondisi ekonomi yang belum stabil ini membuat harga properti terkoreksi, karena konsumen atau investor tidak sanggup membayar rumah dengan harga tinggi. M

isalnya, permintaan harga apartemen di kawasan Jakarta Selatan menjadi Rp 40 juta per meter persegi (m²) dari tawaran harga Rp 57 juta per m². “Ini waktunya membeli rumah atau apartemen,” timpal Erwin.

Sementara itu, Daniel menambahkan, harga penawaran properti di kawasan central business district (CBD) juga sudah turun meski pengembang belum memangkas harga. “Di kalangan konsumen harga properti turun 10%-15%,” ujar Daniel. Saat ini, harga properti baru untuk apartemen atau rumah di kawasan CDB Rp 50 juta-Rp 60 juta per m².

Dengan asumsi harga turun 10%-15%, konsumen sanggup membeli properti senilai Rp 43 juta sampai Rp 51 juta per m².

Editor: Barratut Taqiyyah (kontan.co.id)